Mengapa Ahli Matematika Jenius Didominasi oleh Laki-Laki? -Bagian II

Oleh: Agnes Sianipar* (Pakar Neurosains Kognitif)

Dr. Christiany Suwartono, seorang ahli Ilmu Psikologi di bidang Inteligensi dan Alat Tes Psikologis, telah melakukan riset mengenai tingkat kecerdasan ribuan orang Indonesia dari Aceh hingga Papua. Berdasarkan pengamatan beliau, keinginan anak perempuan untuk melanjutkan studi sangat dibatasi oleh keinginan keluarga dan masyarakat sekitarnya. Sebagian besar dari mereka tidak bisa keluar dari pulau tempat tinggalnya, bahkan tidak bisa keluar dari kotanya untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi. Anak-anak perempuan diharapkan untuk lebih mampu mengurus keluarga ketimbang mengembangkan ilmu pengetahuan. Kondisi inilah yang menyebabkan jarang ada anak perempuan yang tertarik dengan Matematika dan ilmu pengetahuan pada umumnya.

Sesungguhnya ada cukup banyak matematikawan perempuan di masa lalu, namun nama mereka jarang disebutkan dalam sejarah karena peran perempuan dalam ilmu pengetahuan belum dianggap bernilai oleh masyarakat saat itu. Memang, anggapan bahwa anak perempuan tidak mampu bermatematika telah terjadi selama berabad-abad lamanya dalam sejarah manusia. Tentunya anggapan ini sangat menurunkan keinginan para anak perempuan yang sebenarnya berbakat matematika untuk melanjutkan studi mereka di Matematika atau bidang-bidang yang besentuhan dengan Matematika, seperti teknik dan sains.

Anggapan ini juga merugikan masyarakat umum karena kehilangan bakat-bakat terpendam matematika yang ada pada kalangan anak perempuan. Karena itulah, kalau sekarang kita diminta untuk mencari nama orang-orang jenius dalam buku sejarah matematika, biasanya kita akan mendapatkan nama matematikawan laki-laki, seperti Isaac Newton, Carl Friedrich Gauss, Pierre de Fermat, dan lain-lain.

Bagaimana dengan sekarang? Di tahun 2010, suatu penelitian yang dilakukan di berbagai negara menunjukkan bahwa di negara-negara maju anggapan bahwa “anak perempuan tidak mampu bermatematika sehebat anak laki-laki” sudah mulai menghilang. Dan yang terpenting, di negara-negara maju ini hasil tes Matematika anak laki-laki dan perempuan ditemukan memiliki nilai setara.

Maryam Mirzakhani (1977-2017)

Di negara-negara maju inilah sekarang matematikawan perempuan yang jenius bermunculan, misalnya Maryam Mirzakhani dari Universitas Stanford (Amerika Serikat). Di tahun 2014, Maryam Mirzakhani menjadi perempuan pertama yang meraih Fields Medal, yaitu penghargaan tertinggi dalam dunia Matematika. (Sayangnya, ia meninggal karena kanker pada tahun 2017 yang lalu.)

Sumber gambar: https://en.wikipedia.org

*Agnes Sianipar meraih gelar sarjana dan master di bidang Psikologi dan doktoral di bidang Neurosains Kognitif. Saat ini bekerja sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan meneliti masalah emosi dan bahasa.

Tulis komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: