Mengapa Matematikawan di Indonesia Sangat Sedikit Dibandingkan dengan di Eropa? Apakah Sulit Menjadi Matematikawan di Indonesia?

Oleh: Hendra Gunawan* (Matematikawan)

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, saya pernah menghitung banyaknya doktor dalam bidang matematika yang ada di Indonesia. Memang tidak banyak. Tak lebih daripada 150 orang saat itu. Sekarang mungkin sudah melampaui 200 orang, tapi takkan lebih daripada 300 orang. Jumlah ini lebih sedikit daripada doktor dalam bidang fisika yang ada di Indonesia. Mengapa sedikit? Saya tidak tahu persis alasannya.

Namun, mengapa di Eropa lebih banyak matematikawan, kita bisa mengetahui sebabnya. Sejak abad ke-13, matematika digemari (lagi) di Eropa. Mereka membaca buku matematika karya orang-orang Arab-Persia. Lalu, pada abad ke-16 dan 17, matematikawan Eropa bermunculan. Ada Galileo Galilei, Rene Descartes, Pierre de Fermat, Isaac Newton, dan Gottfried von Leibniz, untuk menyebut beberapa nama.

Kembali ke Indonesia, doktor pertama dalam bidang matematika adalah Dr. Sam Ratulangi, tetapi ia kemudian menjadi politikus. Doktor matematika berikutnya adalah Dr. Handali (dari FIPIA UI, yang kemudian menjadi FMIPA ITB) dan Dr. Moedomo (mendapatkan gelar doktornya dari Univ. Illinois AS). Mereka berdua berkarier sebagai dosen di Departemen Matematika ITB sejak tahun 1950-an.

Hingga saat ini, ada sekitar 60 doktor matematika di ITB, 40 doktor matematika di UGM, 15 doktor matematika di UI, dan sisanya tersebar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Bila Adik-adik ingin tahu siapa di antara mereka yang memiliki banyak karya matematika, mampir ke laman ini. O ya, sejak 1976, Himpunan Matematikawan Indonesia didirikan. Anggotanya banyak, meliputi para dosen, guru dan penggemar matematika.

Apakah sulit menjadi matematikawan di Indonesia? Jawabannya mungkin bukan soal sulit atau mudah, tetapi soal berminat atau tidak. Nah, di negara kita ini, bidang studi matematika dan IPA pada umumnya kurang diminati. Mengapa? Mungkin karena kurang menjanjikan lapangan kerja dibandingkan dengan bidang lainnya. Banyak siswa SMA yang memiliki nilai bagus dalam matematika, tetapi ketika lulus memilih bidang studi teknik atau bisnis — antara lain agar mendapat pekerjaan yang ‘basah’ alias besar penghasilannya.

Tentu keadaan ini bisa berubah. Di zaman now, Adik-adik bisa berkenalan dengan matematika melalui berbagai media. Barangkali Adik-adik jadi lebih mengenal matematika dan akhirnya jatuh cinta dengan matematika, sehingga mau menjadi matematikawan — untuk memecahkan berbagai misteri dalam matematika yang belum terungkap hingga saat ini.

Sumber gambar: http://indoms.org

*Hendra Gunawan menjadi dosen Matematika di FMIPA ITB sejak 1988. Ia mendapatkan gelar doktor dalam bidang Matematika dari UNSW Australia pada tahun 1992. Selain mengajar, ia sering memberi pelatihan pada guru, dan kini ia juga meluangkan waktunya bagi anak-anak.

Tulis komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: