Mengapa Kendaraan di Daerah Pantai Lebih Cepat Keropos? [M]

Oleh: Hendra Setiawan* (Mahasiswa TPB ITB)

Halo Indira dan adik-adik semuanya. Setiap benda pasti memiliki batas umur atau batas penggunaan (istilah lainnya kadaluarsa), sama halnya dengan kendaraan yang mungkin sering Indira atau adik-adik perhatikan. Lalu mengapa setiap benda memiliki batas penggunaan? Hal ini disebabkan oleh perubahan yang dialami partikel-partikel penyusun benda tersebut.

Tentu adik-adik pernah mendengar bahwa benda dapat mengalami perubahan bentuk, warna, sifat, dan kekerasan (istilah sainsnya pelapukan, perkaratan, dan pembusukan). Perubahan-perubahan inilah yang menyebabkan suatu benda tidak dapat digunakan selamanya.

Nah, sekarang mari kita cari tahu mengapa kendaraan di daerah pantai lebih cepat keropos dibandingkan dengan kendaraan di tempat lain, katakanlah di rumah adik-adik, dengan anggapan bahwa kendaraan yang dimaksud sama jenis dan usianya.

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya perbedaan tersebut yakni suhu, tekanan, angin, air, dan aktivitas makhluk hidup. Coba adik-adik ingat kembali perbedaan apa yang adik-adik rasakan ketika berada di pantai dengan di rumah? Adik-adik pasti merasakan udara yang sangat panas dan angin yang bertiup sangat kencang ketika berada di pantai. Inilah salah satunya yang menyebabkan kendaraan di pantai lebih cepat keropos. Bagaimana bisa?

Adik-adik sudah tahu bahwa kendaraan dibuat dari bahan dasar logam. Logam sangat sensitif dan rentan terhadap perubahan. Suhu udara yang panas ini membuat partikel-partikel penyusun logam mudah bergerak, dan akibatnya akan terjadi tumbukan antarpartikel.

Tumbukan antarpartikel ini membuat logam mengalami perubahan atau kerusakan fisik sehingga menjadi sangat rapuh. Di sisi lain, panas matahari membuat air laut mudah menguap (evaporasi). Karena air laut mengandung garam (dibuktikan dengan rasa air laut yang asin), maka uap air hasil penguapan tersebut akan mengandung garam juga. Angin yang berhembus di laut membuat uap-uap garam ini bebas bergerak dan akhirnya menempel pada kendaraan. Uap-uap garam yang menempel pada kendaraan akan mempercepat terjadinya perkaratan pada logam (korosi), sehingga kendaraan menjadi sangat rapuh atau cepat keropos.

Sumber gambar: http://www.solopos.com

*Hendra Setiawan adalah mahasiswa Tahap Pertama Bersama, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, angkatan 2013. Ia adalah lulusan SMA Negeri 1 Semarapura, Bali. Di ITB, ia aktif mengikuti kegiatan di unit Keluarga Mahasiswa Hindu, Maha Gotra Ganesha, dan Pers Mahasiswa.

Tulis komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: