Mengapa Nusa Tenggara Timur Termasuk Daerah Tertinggal?

Oleh: Mayling Oey-Gardiner (Pakar Demografi)

Jonni Sakbana yang kini telah dewasa masih ingat apa yang terjadi pada suatu malam gelap gulita tahun 2000 di desa asalnya Oenai, Timor Tengah Selatan (TTS). Ibunya meringkih kesakitan yang hampir tak tertahankan akibat kontraksi di perutnya. Namun, tak ada bidan yang dapat membantu persalinan kelahiran adiknya. Lewat tengah malam, ayah Jonni keluar mencari kendaraan dan berhasil memperoleh bemo untuk mengantarkan isterinya ke Puskesmas terdekat di Oinlasi, Kecamatan Kie. Perjalanan yang memerlukan waktu satu jam itu terlalu lama hingga merenggut nyawa ibunya. Sang bayi berhasil dilahirkan dalam keadaan hidup namun setelah menangis sebentar iapun menyusul ibunya ke alam baka.

Anak-anakku, itulah gambaran kemiskinan yang diderita “Daerah Tertinggal”. Nusa Tenggara Timur (NTT) termasuk Daerah Tertinggal karena tertinggal dalam memberi akses pada pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi rakyatnya dibandingkan dengan daerah lain di Nusantara. Seandainya Ibunda Jonni memperoleh pelayanan melahirkan di rumah sakit dan tenaga medis yang memadai, ia tidak harus meninggal.

Kemiskinan menghambat rakyat memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. Daerah miskin pada umumnya ditandai dengan tingginya kematian ibu dan anak. Hal ini berkaitan dengan penolong kelahiran. Secara nasional, 4 dari 5 kelahiran bayi dibantu oleh dokter atau bidan. Di NTT, hanya 1 dari 2 kelahiran dibantu tenaga medis.

Menurut hasil survei Badan Pusat Statistik, pada tahun 2012 tercatat lebih dari satu juta orang atau 21% penduduk NTT yang tergolong miskin. Angka kemiskinan di Papua dan Maluku lebih tinggi lagi.

Selain pelayanan kesehatan, kemiskinan juga ditandai rendahnya akses rumah tangga pada listrik. Secara nasional, 95% rumah tangga menikmati aliran listrik, sementara di NTT hanya 54%.

NTT terdiri dari 566 pulau, beberapa di antaranya merupakan pulau besar seperti Flores, Sumba, dan Timor Barat. Di samping itu ada pula pulau kecil seperti pulau Alor, Komodo, Lembata, Rote (pulau paling selatan), Savu, dan masih banyak lagi pulau-pulau lainnya yang lebih kecil. Banyaknya pulau mengakibatkan banyak warga yang sukar dicapai oleh sarana dan prasarana sosial ekonomi. Keterbatasan jalan membuat warga sukar untuk saling berhubungan dan memperoleh pelayanan yang seharusnya disediakan Pemerintah.

Walaupun ada Gunung Mutis di TTS setinggi 2.427 meter di atas permukaan laut, sebagian besar pulau di NTT pada umumnya ditandai kekeringan. Selain itu, pulau Flores berkali-kali dirundung gempa bumi yang memporakporandakan sarana-prasarana yang ada.

Perbaikan kesejahteraan masyarakat memerlukan perbaikan pendidikan, diawali dengan memberikan akses bagi sebanyak-banyaknya penduduk usia sekolah. Di NTT, persentase siswa terhadap penduduk usia sekolah, yang dikenal sebagai Angka Partisipasi Murni (APM), saat ini masih rendah. Pada tingkat SD memang hampir tidak ada perbedaan antara NTT dan Indonesia. Namun, pada tingkat SMP, APM NTT hanya 56% sedangkan APM nasional 71%. Pada tingkat SMA, APM NTT 38% sedangkan APM nasional 52%.

Untuk memajukan NTT, Pemimpin NTT perlu segera membangun kekuatan dan modal manusia yang dimilikinya. Membangun pendidikan bagi anak-anak NTT merupakan dorongan untuk dapat bersaing dan maju seperti daerah lainnya. Anak-anak NTT mesti semangat dan rajin belajar ya!

Sumber gambar: http://juniorhighschool9hdr.blogspot.com

Tulis komentar