Mengapa Manusia Bisa Hidup, Sedangkan Benda Tidak?

Oleh: Wardono Niloperbowo* (Pakar Teknik Bioproses)

Ini adalah pertanyaan filosofis yang sulit untuk dijawab. Hingga kini pertanyaan ini belum bisa dijawab secara memuaskan atau mungkin bisa dikatakan belum terjawab sama sekali. Jadi saya hanya akan menyampaikan dua pendapat tentang mengapa manusia atau secara umum makhluk hidup menjadi hidup.

Pertanyaan tersebut membagi para ahli menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama, yaitu  kelompok vitalist, yang berpendapat bahwa di dalam makhluk hidup ada “sesuatu yang menghidupkan” (vis viva) atau kita mengenalnya sebagai “nyawa” yang membuat makhluk hidup menjadi hidup.

Kelompok ini berpendapat bahwa berbeda dengan tubuh yang bersifat material (tersusun dari materi), “nyawa” bersifat non-materi dan keberadaanya di dalam tubuh membuat makhluk hidup menjadi hidup dan kehilangannya dari dalam tubuh membuat makhluk hidup tersebut mati dan bersifat seperti benda mati lainnya.

Namun demikian, kelompok ini memiliki kesulitan untuk menjelaskan secara ilmiah apa itu “nyawa”, sifat sifatnya, di mana letaknya serta bagaimana interaksi antara “nyawa” dan tubuhnya.

Kelompok kedua, yaitu kelompok mekanist, yang berpendapat bahwa makhluk hidup adalah sebuah benda kompleks yang dapat direduksi menjadi bagian-bagian mekanik kecil hingga materi dasar (atom) yang menyusunnya.

enzim mitokondrial

Kelompok ini percaya bahwa makhluk hidup menjadi hidup karena terjadinya reaksi kimia di dalam tubuhnya. Misalnya kelinci berlari karena melihat adanya bahaya merupakan serangkaian reaksi kimia di dalam tubuh kelinci mulai dari pengenalan bentuk dan persepsi oleh otak tentang adanya bahaya, hingga berbagai reaksi kimia di dalam tubuh kelinci yang mengkoordinasikan perintah otak, gerakan otot-otot, denyut jantung dan pernafasan.

Kelompok ini menyatakan bahwa makhluk hidup berhenti hidup ketika reaksi kimia tidak lagi terjadi di dalam tubuh.

Sumber gambar: http://www.scripps.edu

*Wardono Niloperbowo adalah seorang pakar Teknik Bioproses. Ia mendapatkan gelar sarjana dari Fakultas Peternakan Unpad Bandung dan gelar doktor dalam bidang Teknik Bioproses dari University of Queensland, Australia. Sekarang ia tercatat sebagai dosen di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB Bandung .

Tulis komentar