Mengapa dalam Keadaan Sedih dan Bahagia Kita Dapat Mengeluarkan Air Mata?

Oleh: Nur Mardliana Sari* (Konselor)

Disadari atau tidak, mata kita selalu basah. Ini karena fungsi kelenjar air mata yang bertugas membasahi mata. Selain efek fisiologis, keluarnya air mata bisa juga merupakan efek psikologis.

Efek fisiologis keluarnya air mata adalah untuk perlindungan mata dari debu dan kotoran. Setiap pagi kita terbangun dan mendapatkan banyak kotoran mata yang mengering. Kotoran mata dikeluarkan setiap hari tanpa kita sadari.

Mengeluarkan air mata tidak selalu identik dengan reaksi emosional karena sedih dan bahagia.

Saat baru lahir, reaksi pertama kita adalah menangis. Reaksi ini kita lakukan agar ayah, ibu, dan orang-orang di sekeliling kita memberikan perhatian. Entah popok kita yang basah karena kencing dan harus segera diganti, atau ada semut yang menggigit kulit kita, dan lain sebagainya.

Setelah menjadi anak-anak, remaja, dan dewasa, kita mendapatkan pengalaman positif dan negatif yang membuat kita mengeluarkan air mata. Kehilangan orang yang kita sayangi, perasaan menyesal karena telah berbuat salah, atau tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi yang diinginkan, merupakan contoh reaksi emosional yang membuat kita mengeluarkan air mata.

Melihat pengemis yang tak punya rumah tempat berteduh atau orang yang terlahir dengan disabilitas juga bisa membuat kita menangis. Ini adalah cerminan perilaku psikososial dan nilai moral yang selama ini kita pegang. Rasa empati kita membuat kita mengeluarkan air mata.

Bahkan di saat bahagia pun kita bisa mengeluarkan air mata. Bertemu dengan orangtua setelah sekian lama berpisah, menerima kado ulang tahun dari sahabat, atau terkabulnya doa yang selama ini kita panjatkan, merupakan contoh efek psikologis dari sekresi air mata yang biasa kita sebut dengan ‘menangis’.

Semoga penjelasan di atas menjawab pertanyaan Dik Wahyu dan Adik-adik sekalian.

Sumber gambar: https://en.wikipedia.org

*Nur Mardliana Sari meraih gelar sarjana dalam bidang psikologi dari Universitas Proklamasi 45, Yogyakarta, pada tahun 2004. Saat ini ia bekerja sebagai konselor yang memberikan penyuluhan di Poli Tumbuh Kembang RSUD Dr. R. Soedjono Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Tulis komentar