Mengapa dalam Keadaan Sedih dan Bahagia Kita Dapat Mengeluarkan Air Mata? – II

Oleh: Agnes Sianipar* (Pakar Neurosains Kognitif)

Halo, Wahyu! Air mata yang kita keluarkan sebenarnya memiliki banyak fungsi loh.

Ada beberapa jenis air mata berdasarkan fungsinya. Yang pertama adalah air mata basal yang berfungsi untuk melembabkan mata kita agar tidak kering. Yang kedua adalah air mata refleks yang berfungsi sebagai respon tubuh untuk membersihkan mata saat ada zat atau bakteri yang menimbulkan iritasi di mata kita (biasanya jadi perih atau gatal). Yang ketiga adalah air mata psikis/emosional yang berfungsi sebagai respon tubuh kita saat mengalami emosi yang sangat mendalam, misalnya sangat bahagia atau sangat sedih.

Saat kita merasakan kebahagiaan atau kesedihan yang hebat, tubuh kita sebenarnya mengalami peningkatan aktivitas, di mana jantung kita bisa berdebar lebih cepat dan otot-otot wajah kita menjadi tegang. Tanda-tanda fisik ini adalah cara tubuh mengirimkan pesan ke otak bahwa kita sedang mengalami ketidakseimbangan. Area otak yang menerima pesan ini adalah Medial Prefrontal cortex dan Hipotalamus.

Medial Prefrontal cortex meminta Hipotalamus segera beraksi untuk menjaga keseimbangan tubuh.  Selanjutnya, Hipotalamus mendorong jaringan saraf parasimpatis untuk meredakan reaksi tubuh yang meningkat. Jaringan saraf parasimpatis ini kemudian mengaktivasi  kelenjar lakrimal di pelipis mata kita untuk memproduksi air mata sehingga kita pun menangis.

Nah, setelah menangis, otot-otot wajah kita akan menjadi lebih rileks, jantung kita tidak lagi berdebar-debar. Perubahan fisiologis ini akan kembali dideteksi oleh otak yang memaknainya sebagai kondisi yang seimbang dan kita pun perlahan-lahan merasa lebih tenang dan terkontrol.

Jadi mengapa kita menangis saat kita sedih atau bahagia? Jawabannya adalah untuk meredakan reaksi fisik yang meningkat saat kita merasakan kesedihan dan kebahagiaan.

Menangis saat mengalami kebahagiaan atau kesedihan memang proses alamiah untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan mental maupun tubuh kita.

Semoga ini menjawab pertanyaan Wahyu ya….

Sumber gambar: https://notesonanapkin.wordpress.com

*Agnes Sianipar meraih gelar sarjana dan master di bidang Psikologi dan doktoral di bidang Neurosains Kognitif. Saat ini bekerja sebagai dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan meneliti masalah emosi dan bahasa

Tulis komentar