Mengapa BI tidak Mencetak Uang Sebanyak-banyaknya dan Membagikannya kepada Orang Tak Mampu?

Oleh: Novriana Sumarti* (Matematikawan Terapan)

Adik-adik tahu kan Bank Indonesia (BI) merupakan satu-satunya lembaga yang melakukan pengedaran dan penarikan uang Rupiah. BI akan menarik uang-uang yang sudah rusak dan menghitung jumlah uang baru penggantinya, lalu Perum Peruri akan mencetak uang baru tersebut. BI tidak dapat dengan mudah meminta Perum Peruri untuk mencetak uang baru karena adanya pengawasan dari DPR RI.

Jumlah uang yang beredar di masyarakat harus bisa dikontrol dengan baik. Jika jumlahnya sedikit maka masyarakat tidak bisa melakukan transaksi keuangan tunai dengan lancar.

uang rupiah

Jika terlalu banyak dari biasanya, masalah baru akan muncul. Contohnya, apabila 27,77 juta orang miskin di Indonesia (Maret 2017 menurut BPS) diberi uang cetakan baru Rp 1 juta secara cuma-cuma setiap bulan, uang beredar di masyarakat Indonesia akan yang semula sebanyak Rp. 1.215 triliun (Maret 2017 menurut BI) akan bertambah menjadi Rp 1.242,77 triliun pada bulan pertama saja. Masyarakat yang semula tidak pernah membeli gas elpiji untuk memasak sekarang menjadi mampu membelinya, sehingga penjualan gas elpiji naik secara tajam. Akibatnya, persediaan gas elpiji yang biasanya rata-rata 3.812 MT (metrik ton) per bulan cepat terjual habis, sehingga terjadi kelangkaan.

Sesuai dengan fenomena ekonomi, apabila barang langka dan menjadi rebutan di pasaran maka harganya akan dinaikkan. Kenaikan harga gas elpiji ini akan memberi akibat pada kenaikan harga barang-barang yang lain. Akibatnya, masyarakat miskin yang semula mempunyai uang untuk membeli kebutuhan pokok akhirnya menjadi tidak mampu lagi karena harganya meningkat tajam. Peningkatan pendapatan Rp 1 juta tadi tidak sebanding dengan peningkatan harga karena barang-barang pokok menjadi langka. Dengan demikian, pemberian uang cuma-cuma pada masyarakat miskin tidak memberi solusi yang tepat untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan.

Solusi utama adalah memberi peluang kepada mereka untuk belajar dan bekerja agar dapat hidup lebih produktif.

Sumber gambar: https://brilio.net

*Novriana Sumarti adalah peneliti dalam bidang perbankan dan model opsi saham, dan tercatat sebagai dosen di FMIPA-ITB. Ia adalah lulusan FMIPA-ITB dan meraih gelar masternya dalam matematika pada tahun 1998. Gelar doktornya diperoleh dari Imperial College London, University of London, pada tahun 2005.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*
Website