Mengapa Bahasa di Dunia ini Berbeda-beda?

Oleh: Aprileny* (Guru)

Sewaktu Ibu April mendapatkan pertanyaan, “Mengapa Bahasa di Dunia ini Berbeda-beda?”, Bu April langsung bergumam, “Duh, Nak, Bu April jadi malu”. Bu April adalah guru Bahasa Inggris dan Ibu masih kurang paham mengapa bahasa Inggris berbeda dari Bahasa Indonesia. Jadi, untuk menjawab pertanyaan “Mengapa Bahasa di Dunia ini Berbeda-beda?”, Bu April belajar lagi tentang rumpun-rumpun bahasa, wilayah geografis rumpun-rumpun bahasa, dan migrasi bangsa-bangsa di masa pra-sejarah.

Pada zaman dahulu, nenek moyang bangsa-bangsa modern tinggal di wilayah yang berbeda-beda dengan bahasa yang berbeda pula. Nenek-nenek moyang bangsa-bangsa modern tersebut bertempat tinggal di benua Asia, Eropa, Afrika, dan Australia dengan bahasa mereka sendiri. Tapi mengapa bahasa mereka bisa berbeda? Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita cermati peta rumpun-rumpun bahasa berikut.

peta bahasa

Kita bayangkan bahwa pada saat itu alat-alat transportasi belum ada. Kalaupun sudah ada, alat-alat transportasi pada saat itu tentulah belum beroperasi secara efektif dan efisien seperti alat-alat transportasi masa kini. Jadi faktor geografislah yang menyebabkan bahasa-bahasa di dunia menjadi berbeda-beda.

Mari kita cermati peta rumpun-rumpun bahasa di atas. Kita temui warna-warna yang berbeda untuk menandai rumpun-rumpun bahasa yang berbeda. Kita lihat rumpun bahasa di benua Asia dan di Eropa dipisahkan oleh warna merah yang menandai rumpun bahasa Uralo-Altaik. Secara geografis rumpun bahasa Uralo-Altaik berada di wilayah pegunungan Uralo-Altai yang memisahkan Eropa dari Asia. Rumpun bahasa di Eropa secara umum berwarna oranye sebagai penanda rumpun bahasa Indo-Eropa dengan satu titik merah yang berarti ada rumpun bahasa Uralo-Altaik di sana.

Sementara itu, di bagian peta untuk Asia, wilayah geografis Asia kontinental terbagi oleh dua warna, yaitu oranye dan kuning emas emas. Apa artinya? Hal itu berarti ada dua rumpun bahasa di Asia kontinental yaitu rumpun bahasa Sino-Thai dan Indo-Eropa. Lalu apa hubungannya rumpun-rumpun bahasa tersebut dengan migrasi pra-sejarah? Mari kita cermati lagi. Mengapa ada rumpun bahasa Indo-Eropa di Asia? Para pakar bahasa menduga bahwa bahasa Indo-Eropa di Eropa dibawa masuk oleh orang-orang Asia ke Eropa melalui migrasi besar-besaran yang memakan waktu sangat panjang pada zaman pra-sejarah. Orang-orang tersebut melintasi pegunungan Uralo-Altaik dan berhenti di Eropa. Perhatikan titik kecil merah, yang berarti rumpun bahasa Uralo-Altaik di wilayah Eropa. Titik tersebut adalah rute terakhir migrasi besar-besaran nenek moyang pengguna rumpun bahasa Uralo-Altaik dari timur laut Siberia ke Amerika Utara (Antartika) dan berhenti di ujung utara Eropa.

Lalu bagaimana dengan Indonesia dan negara-negara Asia lainnya? Kita lihat bahwa secara geografis negara-negara Arab berdekatan dengan benua Afrika sehingga bahasa-bahasa yang berada di wilayah tersebut berada dalam rumpun bahasa yang sama yaitu Hamito-Semitik; yang di peta ditandai dengan warna biru. Nah, kita bisa menduga, kan, bagaimana pola migrasi yang ada di daerah geografis Arab-Afrika. Masih di Afrika, selain rumpun bahasa Hamito-Semitik, ada juga Niger-Kongo dan Bantu. Lalu ada titik kecil berwarna abu-abu yang menandai rumpun bahasa Dravidian di anak benua India dan Srilanka.

Lalu bagaimana dengan bahasa-bahasa yang ada di Indonesia? Bahasa-bahasa yang ada di Indonesia termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia. Sementara itu Australia memiliki rumpun bahasa sendiri yaitu rumpun bahasa Papua dan Australia. Yang unik di sini adalah pulau Papua separuhnya dimiliki oleh Negara Papua Nugini dan separuhnya adalah bagian dari wilayah Indonesia, namun rumpun bahasa di pulau Papua adalah rumpun bahasa Papua dan Australia. Dari sini kita juga bisa menduga pola migrasi di pulau Papua dan benua Australia.

Nah, di benua Amerika, rumpun bahasanya adalah Ameridian. Hal itu berarti kecil kemungkinan ada migrasi bangsa lain ke benua Amerika dan dari benua Amerika ke benua Asia dan Eropa. Namun, karena peta rumpun bahasa ini hanya merangkum garis besarnya saja, sebenarnya di Amerika Utara (Antartika), terdapat wilayah pengguna rumpun bahasa Uralo-Altaik seperti yang telah dibahas sebelumnya.

Jadi, dari paparan peta keluarga bahasa di dunia ini, kita bisa menarik simpulan mengapa bahasa di dunia ini berbeda-beda. Hal itu terjadi karena pada zaman dahulu, nenek moyang bangsa-bangsa modern tinggal di wilayah yang berbeda-beda dengan bahasa yang berbeda pula. Sangat beresiko dan memakan waktu yang sangat lama bagi mereka untuk bermigrasi dengan sarana transportasi yang terbatas. Dan, marilah kita berandai-andai. Jika sarana dan prasaran transportasi saat itu sudah efektif dan efisien seperti saat ini, apakah yang akan terjadi dengan rumpun-rumpun bahasa tersebut? Apakah rumpun-rumpun bahasa tersebut akan saling memengaruhi sehingga terjadi kemiripan-kemiripan antara keluarga bahasa tersebut? Berimajinasilah, agar wawasan berpikirmu tentang bahasa menjadi luas dan mendalam.

Catatan: Ibu April baru tahu kalau ternyata Bahasa Inggris masuk ke dalam rumpun bahasa Indo-Eropa, sub-rumpun bahasa Jermanik, bersaudara dengan bahasa Jerman dan Belanda. Dan tentu saja Bahasa Inggris sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia yang termasuk ke dalam rumpun bahasa Austronesia.

Sumber gambar: http://www.freelang.net/families/index.php

*Aprileny adalah seorang guru. Saat ini ia mengajar Bahasa Inggris dan IPS di Sekolah Dasar High Scope Unit Alfa Indah.

Tulis komentar