Bagaimana Baterai Bisa Menghasilkan Energi Listrik?

Oleh: Bambang Ariwahjoedi (Kimiawan)

Sebelum kita memeriksa apa yang ada di dalam baterai, mari kita lihat dahulu apa itu energi listrik.

Energi listrik adalah energi yang dapat kita peroleh karena adanya arus listrik yang mengalir. Sebagai analogi, angin berupa udara yang mengalir dapat memberikan energi yang memutar kincir angin, sedangkan air sungai yang mengalir dapat memberikan energi yang memutar kincir air. Demikian pula arus listrik yang mengalir dapat memberikan energi.

Sebagai contoh, kalau kita ingin memutar baling-baling kipas angin meja, maka steker kita tancapkan pada colokan stop kontak listrik di dinding, kita tekan tombol “ON”, dan arus listrik yang mengalir dari colokan stop kontak di dinding dipakai untuk memutar baling-baling kipas angin meja. Inilah energi listrik karena adanya arus listrik yang mengalir.

Ingat baik-baik ada dua lubang konektor penghubung pada colokan stop kontak listrik. Artinya, kedua lubang konektor itu diperlukan: konektor yang satu untuk arus keluar dan konektor yang lain untuk arus masuk.

Nah, sekarang bagaimana baterai bisa menghasilkan atau memberikan energi listrik? Kalau kita amati secara cermat, maka baterai juga mempunyai 2 konektor yang ditandai dengan kutub (+) dan kutub (-). Dari sinilah arus listrik akan mengalir, yaitu dari kutub (+) menuju ke kutub (-).

Misalnya kalian ingin menjalankan mobil-mobilan semacam Tamiya, maka arus listrik dari baterai yang kalian pakai akan mengalir ke dalam motor listrik dari mobil-mobilan kamu dan motor ini kemudian menggerakkan roda mobil-mobilan itu.

Sekarang mari kita pelajari mengapa baterai dapat memberikan arus listrik? Baterai dapat memberikan arus listrik hanya bila kutub (+) dan kutub (-) dihubungkan dengan penghantar arus listrik seperti kabel, bola lampu, atau bahkan motor listrik mobil-mobilan kamu.

Lalu ada pertanyaan lebih jauh lagi: dari manakah sumber arus listrik yang dikeluarkan oleh baterai? Arus listrik yang keluar dari baterai dihasilkan melalui REAKSI KIMIA di dalam baterai itu yang sanggup menghasilkan arus listrik. Reaksi kimia itu secara otomatis akan terpicu begitu kita menghubungkan kutub (+) dan kutub (-) pada baterai.

Di dalam baterai yang masih baru, bahan-bahan kimia PEREAKSI-nya masih segar. Sementara pada baterai yang sudah usang atau sudah habis bahan-bahan kimia pereaksinya sudah habis, sehingga yang ada di dalamnya tinggallah zat kimia HASIL REAKSI saja yang sudah tidak dapat memberikan arus listrik.

Sebagai contoh, dalam baterai biasa (bukan tipe alkaline), yang mudah kita dapatkan atau beli sehari-hari di warung, terdapat tiga bahan pereaksi kimia yang bisa menghasilkan listrik. Bahan-bahan itu adalah logam sengpirolusit, dan garam salmiak. Bila kita picu ketiga bahan kimia ini untuk mulai bereaksi, yaitu dengan menghubungkan kedua kutub-kutub baterainya, maka akan dihasilkan arus listrik yang akan mengalir melalui kabel ataupun peralatan listrik yang akan kita jalankan.

Reaksi kimia di dalam baterai menghasilkan zat hasil reaksi berupa air, gas amoniak, dan beberapa zat kimia lainnya. Hasil-hasil reaksi ini akan tetap tinggal di dalam baterai bekas itu, kecuali gas amoniak yang akan menguap ke luar.

Kadangkala air juga akan merembes ke luar, sehingga baterai yang hampir habis sering kita dapati basah. Cairan ini sering merusakkan rangkaian barang listrik yang kita pakai karena bersama air ini terbawa ke luar garam seng klorida yang ikut larut dalam air, dan dapat menyebabkan alat listrik kita berkarat.

Sumber gambar: http://ademr.wordpress.com

2 thoughts on “Bagaimana Baterai Bisa Menghasilkan Energi Listrik?

  1. “Menyimpan muatan listrik” atau “menghasilkan daya listrik”?? Mohon diperjelas untuk baterai.

  2. Terima kasih atas pertanyaan Bhoedhy. Saya lebih cenderung, baterai adalah menghasilkan energi (atau daya) listrik, sebab baterai bukan menyimpan muatan listrik. Muatan listrik yang dihasilkan dalam baterai timbul dari reaksi kimia di dalam baterai. Sedangkan alat yang berfungsi menyimpan muatan listrik disebut kapasitor. Dan prinsip kerja kapasitor amat berbeda dari baterai. Semoga ini memperjelas konsepnya.
    Salam, Bambang

Tulis komentar