Apakah Minyak Goreng Dapat Menguap? – Bagian II

Oleh: Dennis Kwaria* (Kimiawan Organik)

Pada Bagian I, Adik-adik sudah mempelajari bahwa semakin panjang rantai karbon pada minyak, semakin tinggi titik didihnya. Akan tetapi ketika dipanaskan, bukan hanya penguapan saja yang terjadi loh.

Rantai karbon pada minyak dapat patah bila minyak dipanaskan. Misalnya, ketika dipanaskan, rantai karbon yang terdiri atas 12 karbon dapat pecah menjadi dua rantai baru dengan panjang masing-masing 7 dan 5. Rantai yang pendek ini kemudian menjadi asap. Ketika hal ini terjadi, umumnya minyak dianggap rusak.

Nah, temperatur ketika minyak rusak akibat pemanasan ini disebut titik asap. Umumnya, minyak yang memiliki rantai panjang (termasuk minyak goreng) memiliki titik asap lebih rendah daripada titik didihnya, sedangkan minyak dengan rantai karbon pendek memiliki titik asap lebih tinggi daripada titik didihnya.

Artinya, bila kita memanaskan minyak yang memiliki rantai panjang, minyak tersebut akan rusak dahulu sebelum menguap. Sebagai contoh, minyak kelapa memiliki titik didih di atas 450oC, namun memiliki titik asap 176oC. Artinya, ketika minyak kelapa dipanaskan terus-menerus, ia akan rusak dahulu sebelum sempat menguap.

Perbedaan proses menguap dan proses rusaknya minyak terlihat pada gambar di bawah ini:

Gambar kiri: Minyak yang sedang dalam proses merusak karena panas. Tidak ada gelembung namun banyak asapnya. Gambar kanan: Minyak heksana yang sedang menguap: banyak gelembung, namun relatif tidak ada asap yang terlihat.

Bila kita memanaskan minyak sampai berasap (mencapai titik asap), minyak tersebut tidak boleh dipakai lagi untuk menggoreng, karena sudah rusak dan dapat membahayakan kesehatan. Berikut ini adalah titik asap beberapa minyak yang umum dipakai memasak. Titik didih minyak-minyak tersebut jauh lebih tinggi daripada titik asapnya.

Menarik juga ya mempelajari sifat-sifat minyak! Adik-adik akan lebih mudah memahaminya nanti ketika Adik-adik  belajar ilmu kimia di SMA.

Sumber gambar: Internet

*Dennis Kwaria adalah seorang kimiawan organik. Ia meraih gelar sarjana dan magister dalam bidang Kimia dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Institut Teknologi Bandung.

Tulis komentar