Apakah Matematika Ada Bersamaan dengan Adanya Manusia?

Oleh: Hendra Gunawan* (Matematikawan)

Pertanyaan Melkianus Selly (12 tahun) asal Kupang ini sangat menarik: Apakah matematika ada bersamaan dengan adanya manusia?

Menurut catatan sejarah, pengetahuan tentang bilangan dan geometri telah dimiliki oleh bangsa Babilonia dan Mesir Kuno 8000 hingga 7000 tahun yang lalu. Tetapi, matematika baru dipelajari secara terstruktur oleh bangsa Yunani Kuno sekitar 2500 tahun yang lalu.

Adik-adik tahu kan, bahwa manusia seperti kita sekarang ini, yang dikenal sebagai Homo sapiens, sudah ada di muka Bumi kira-kira sejak 315.000 tahun yang lalu. Nah, ketika itu, para Homo sapiens tentunya belum mengenal Dalil Pythagoras seperti bangsa Yunani Kuno. Namun, itu tidak berarti bahwa Dalil Pythagoras tidak ada pada saat itu. Dalil Pythagoras ada, tetapi para Homo sapiens belum menemukannya hingga 300.000 tahun kemudian.

Saya berani menyatakan bahwa Dalil Pythagoras bahkan ada sebelum Homo sapiens ada, namun para Homo erectus dan makhluk hidup lainnya ketika itu tidak cukup cerdas untuk mengungkapnya. Bagaimana saya bisa sampai pada kesimpulan tersebut?

Bayangkan Bumi ini hancur dihajar asteroid raksasa. Lalu kehidupan di muka Bumi punah, atau katakanlah seluruh mamalia (termasuk manusia), reptilia, dan unggas punah. Jadi tidak ada lagi yang mempelajari ataupun mengingat Dalil Pythagoras, ya kan? Sementara itu, ikan dan amfibi yang masih hidup (katakanlah mereka selamat) tidak tahu apa-apa tentang Dalil Pythagoras — walau ini hanya asumsi kita saja. Apakah Dalil Pythagoras punah?

Menurut saya, Dalil Pythagoras tetap ada, menunggu seekor ikan atau amfibi menemukannya, kalau ada ikan atau amfibi yang cukup cerdas. Barangkali perlu ratusan ribu atau jutaan tahun hingga ada ikan atau amfibi yang cukup cerdas, dan ujudnya mungkin sudah berubah — tidak seperti ikan atau amfibi yang ada sekarang.

Di ‘bumi’ lain, kalau ada makhluk hidup yang cukup cerdas di sana, Dalil Pythagoras mungkin telah ditemukan dan dipelajari juga — tetapi dengan nama berbeda, Dalil Jedi, misalnya. Walau notasi dan istilahnya mungkin berbeda, pernyataannya ya itu-itu juga: pada segitiga siku-siku dengan alas, tinggi, dan sisi miring ab, dan c, berlaku a2 + b2 = c2.

Sumber gambar: http://hunterwalk.com

*Hendra Gunawan tercatat sebagai dosen matematika di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung, sejak 1988Pada tahun 2013, ia menggagas blog anakbertanya.com dan sejak itu mengelola blog tersebut yang menerbitkan jawaban para pakar atas berbagai pertanyaan anak-anak.

Tulis komentar