Apakah DNA Hasil Cloning Manusia Akan Sama dengan Manusia Aslinya?

Oleh: Adi Pancoro* (Biolog)

Sebelum menjawab pertanyaan Dik Winner, perlu Adik diketahui bahwa cloning sendiri memiliki dua konteks pembahasan yang berbeda. Pertama, dalam keilmuan rekayasa genetika, cloning adalah suatu proses menginsersikan atau memasukkan potongan DNA tertentu yang kita inginkan (bisa berasal dari virus, manusia, atau apapun) ke dalam DNA lain sebagai penerima (proses rekombinan). Dalam hal ini, DNA hasil cloning tidak akan sama persis dengan aslinya.

Bila dibayangkan secara sederhana, seuntai benang putih yang dianggap sebagai DNA A dipotong. Kemudian seuntai benang hitam yaitu DNA B disisipkan ke dalam benang putih tersebut. Dengan demikian, DNA hasil penyisipan itu disebut DNA rekombinan dengan urutan warna putih, hitam, dan putih. Individu dengan DNA rekombinan itu akan mengekspresikan DNA putih dan hitam, bukan hanya salah satunya.

Konteks kedua adalah cloning yang selama ini telah kita kenal, dimana individu yang dihasilkan sama persis dengan induknya; contohnya kultur jaringan pada suatu tanaman. Terdapat dua cara perkembangbiakannya pada tanaman: aseksual dan seksual.  Bila berkembang biak secara seksual, maka keturunannya bisa bervariasi; belum tentu sama persis seperti induknya. Namun bila tanaman berkembang biak secara aseksual, misalnya dengan tunas, maka individu yang dihasilkan akan sama persis seperti induknya. Perkembangbiakan aseksual inilah yang terjadi pada cloning dalam konteks kedua.

Proses kultur jaringan yang terjadi adalah sebagai berikut: Kita pilih suatu jaringan yang ada pada tanaman yang ingin dibuat clone-nya, misalnya kita pilih jaringan pada daun. Daun tersebut dipotong, kemudian daun tersebut ditumbuhkan pada medium tertentu. Karena daun punya kemampuan yang disebut sebagai teori totipotensi, maka jaringan pada daun tersebut – dengan adanya suplai hormon-hormon dan perlakuan lainnya – akan tumbuh sesuai dengan karakteristiknya dan pertumbuhan ini spesifik; ada yang membentuk akar, daun, dan lainnya, hingga akhirnya akan menjadi individu yang persis sama seperti asalnya dimana jaringan itu diambil.

Hal utama dari cloning dalam konteks kedua adalah tidak terjadinya pertukaran materi genetik. Setiap manusia diciptakan dari hasil fertilisasi ayah dan ibunya. Artinya, setiap manusia adalah hasil pertukaran (sumbangan) materi genetik dari ayah dan ibunya. Akibatnya, DNA seseorang tidak persis 100% sama seperti ayah dan ibunya. Sementara clone tidak begitu; DNA yang dihasilkan 100% sama dengan induknya.

Pada proses cloning, kita mengambil satu atau lebih sel (pada hewan) atau jaringan (pada tumbuhan) yang belum terdiferensiasi. Dengan memberikan perlakuan khusus, sel atau jaringan itu akan terpacu sehingga sel atau jaringannya akan terdiferensiasi –  sel membelah secara spesifik sehingga mempunyai fungsi tertentu – lalu pada suatu fase, sel atau jaringan tersebut ditanamkan di lingkungan yang dibutuhkan. Bila yang kita cloning adalah hewan, selnya akan ditanamkan ke dalam rahim induknya (yaitu hewan dimana sel tersebut diambil). Namun pada cloning suatu tanaman, jaringannya tidak perlu ditanamkan kembali ke induknya. Sel atau jaringan itulah yang nantinya akan menjadi individu baru; bukan melalui proses fertilisasi.

cloning

Contoh cloning yang saat ini dilakukan di dunia adalah pada tanaman dan hewan. Hingga saat ini, ilmuwan tidak pernah membicarakan cloning manusia dan belum ada penelitian yang secara progresif ingin melakukan cloning pada manusia. Jadi tidak ada jawaban yang dapat menjawab pertanyaan Dik Winner saat ini, namun dengan dua konteks cloning yang dijabarkan di atas kiranya Dik Winner mendapatkan gambaran ya.. :-) (/JoL)

Sumber gambar: http://jurassicpark.wikia.com/

*Adi Pancoro tercatat sebagai dosen di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, ITB, sejak tahun 1987. Ia mendapatkan gelar doktor dalam bidang Genetika Molekul dari Universitas Newcastle, Newcastle upon Tyne, England, pada tahun 1993.

One thought on “Apakah DNA Hasil Cloning Manusia Akan Sama dengan Manusia Aslinya?

  1. Apakah proses mengkloning hewan atau tumbuhan ini tidak bertentangan dengan ajaran agama tertentu ?

Tulis komentar