Apa Itu Penanggalan Qomariyah?

Oleh: Moedji Raharto* (Astronom)

Secara umum kalender merupakan sebuah sistem pencatat waktu dalam jangka panjang, puluhan, ratusan, ribuan, ratusan ribu tahun, maupun jutaan tahun. Pendek kata selama eksistensi manusia pengguna kalender masih ada, sepanjang itu pula kalender itu hidup dan berarti. Fungsi kalender bagi kehidupan manusia di antaranya adalah untuk pencatatan peristiwa sejarah, pencatatan tanda kelahiran atau kematian, pencatatan transaksi, hari besar kenegaraan, penentuan hari besar keagamaan, untuk mengetahui usia kandungan, usia tanaman industri, dan sebagainya.

Fenomena Matahari di ekuinoks dan di titik balik musim panas maupun di titik balik musim dingin mendapat perhatian, karena posisi Matahari yang ekstrim di langit, berulang sepanjang tahun. Fenomena fase Bulan, bentuk sabit Bulan sore hari, membesar menjadi bulan separuh kemudian bundar terang sepanjang malam menjadi bulan purnama dan kemudian mengecil menjadi bulan separuh yang dapat disaksikan pada pagi hari dan akhirnya mendekat ke arah terbitnya Matahari, berulang setiap bulan juga merupakan fenomena langit yang mendapat perhatian.

Siklus pengulangan dan keteraturan fenomena kedudukan Matahari dan Bulan di langit menjadi acuan untuk mengembangkan kalender. Kedua fenomena langit yang berulang tersebut ibarat sebuah jam alam semesta yang perlu perawatan, tak padam, bisa bertahan jutaan dan bahkan miliaran tahun.

Siklus tropis rata–rata Matahari, siklus Matahari dari ekuinoks musim semi ke ekuinoks musim semi berikutnya, berlangsung 365,2422 hari. Bagaimana dengan siklus sinodis Bulan, dari satu fase ke fase yang sama berikutnya? Dalam kenyataannya selang waktu siklus sinodis Bulan tidak sama. Dalam kurun waktu 5000 tahun, yaitu dari tahun 1000 SM sampai tahun 4000 M terdapat periode sinodis Bulan terpendek pada tahun 302 SM yaitu 29,2679 hari dan terpanjang pada tahun 400 SM yaitu 29,8376 hari. Perbedaan periode sinodis Bulan terpanjang dan terpendek adalah 13 jam 40 menit. Masa siklus sinodis terpanjang akan bergeser dari Desember ke Januari dan ke Februari setelah tahun 2200 dan masa siklus sinodis terpendek akan bergeser dari Juni ke Juli dan ke Agustus setelah tahun 2200. Periode sinodis Bulan rata–rata adalah 29,53059 hari.

Siklus tropis Matahari dipergunakan acuan untuk membangun sistem kalender murni Matahari (solar calendar) atau kalender Syamsiah, misalnya kalender Masehi Gregorian dan kalender SAKA Sunda.  Sementara siklus sinodis Bulan dipergunakan acuan untuk membangun sistem kalender murni Bulan (lunar calendar) atau sistem kalender Qamariah, misalnya kalender Hijriah, kalender Caka Sunda, dan kalender Jawa. Ada pula yang memanfaatkan kedua siklus tersebut, siklus tropis dan siklus sinodis Bulan, untuk membangun sistem kalender luni-solar (luni-solar calendar) atau sistem kalender Bulan–Matahari, misalnya kalender Cina (hari Raya Imlek), kalender Budha (hari Raya Waisak), kalender Hindu Saka Bali (hari Raya Nyepi), dan penentuan hari Paskah.

Setahun kalender Matahari (tahun baru ke tahun baru berikutnya) ditetapkan 365 hari (tahun basit = tahun pendek) atau 366 hari (tahun kabisat = tahun panjang). Setahun kalender Qamariah (tahun baru ke tahun baru berikutnya) berlangsung 354 hari (tahun basit) atau 355 hari (tahun kabisat). Setahun kalender Luni–Solar (tahun baru ke tahun baru berikutnya) bisa 354 hari, 355 hari, atau 384 hari. Jarak dari hari Paskah ke hari Paskah berikutnya bisa 350 hari, 357 hari, dan 385 hari.

Sumber gambar: http://www.infoastronomy.org

*Moedji Raharto adalah dosen Astronomi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung. Ia merupakan salah seorang astronom atau ahli falak Indonesia yang menaruh perhatian besar terhadap Kalender Islam.

Tulis komentar