Apa Itu Kalender Hijriah?

Oleh: Moedji Raharto* (Astronom)

Kalendar Hijriah merupakan kalender bulan. Pengguna kalender ini adalah umat Islam. Kalender Hijriah dipakai terutama untuk menetapkan waktu — waktu ibadah Haji, ibadah shaum Ramadhan, puasa pertengahan bulan, dan sebagainya. Sebulan dalam kalender Hijriah terdiri atas 29 atau 30 hari, dan setahun terdiri atas 354 atau 355 hari.

Awal penanggalan 1 Muharram 1 H = 16 Juli 622 M (15 Juli 622 M) bertepatan dengan peristiwa sejarah Hijriah Nabi Muhammad dari Mekah ke Medinah. Satu tahun terdiri atas 12 bulan dengan urutan bulan ke-1 = Muharram, 2 = Safar, 3 = Rabi’ul awal, 4 = Rabi’ul akhir, 5 = Jumadal Ula, 6 = Jumadal Akhirah, 7 = Rajab, 8 = Sya’ban, 9 = Ramadhan, 10 = Syawal, 11 = Zulkaedah, dan 12 = Zulhijjah.

Untuk kalender Hijriah, tabulasi atau hisab Urfi dipergunakan sistem daur 30. QS Khafi ayat 25 memberi inspirasi untuk membangun sistem penanggalan dengan daur 30. Pada ayat tersebut tertera 300 tahun Matahari sama dengan 309 tahun bulan.

Satu tahun Matahari pada waktu itu sama dengan 12 bulan dan tiap bulan terdiri atas 30 hari ditambah 5 hari ekstra. Jadi 300 tahun Matahari = 300 x 365 hari = 109.500 hari, sama dengan 309 tahun bulan. Maka satu tahun kalendar bulan adalah (109500/309) hari = 354,3689320388 hari atau sekitar ≈ 354 (11/30) hari.

Dalam 30 tahun kalendar hijriah (hisab Urfi) terdapat 11 tahun kabisat. Oleh karena itu setahun terdiri atas (354 + 11/30) hari = 354,3666667 hari atau 1 bulan rata – rata (19 X 354 + 11 x 355)/(30 x 12) hari = 10.631/360 hari = 29,53055556 hari.

Dalam 30 tahun atau dalam 360 bulan kalender Hijriah, hanya terdapat 11 tahun kabisat yang berarti komposisi jumlah bulan dengan 29 hari adalah (180 ─ 11) = 169 bulan dan jumlah bulan dengan 30 hari adalah (180 +11) = 191 bulan. Jadi jumlah hari dalam 30 tahun (169 x 29 + 191 x 30) hari = (19 X 354 + 11 x 355) hari = 10.631 hari.

Secara astronomi, kalender bulan seperti halnya kalender Hijriah mengisaratkan jumlah bulan dengan 30 hari lebih banyak dibandingkan dengan bulan dengan 29 hari. Melalui daur 30, dapat ditaksir perbandingan jumlah bulan dengan 30 hari. Dari awal penanggalan Hijriah hingga 1437 H terdapat (1437 ─ 1) x 12 bulan = 17.232 bulan dan minimal (1436/30) x 11 ≈ 526 tambahan bulan dengan 30 hari.

Dengan demikian proporsi bulan dengan 30 hari adalah (17.232/2) + 526 = 8616 + 526 = 9142 atau (9142/17232) x 100% = 53,05%, sedangkan proporsi bulan dengan 29 hari adalah (17232/2) ─ 526 = 8616 ─ 526 = 8090 atau (8090/17.232) x 100% = 46,95%.

Dalam kalender Hijriah, baik dengan sistem hisab Urfi atau hisab Hakiki, satu bulan dengan 30 hari lebih banyak dibandingkan dengan satu bulan Islam dengan 29 hari, dengan perbandingan 9142 : 8090 atau sekitar 113 : 100. Secara teoritis, dalam sistem hisab Urfi, jumlah bulan Dzulhijjah dengan 30 hari akan bertambah sebanyak 526 bulan sedangkan bulan Dzulhijjah dengan 29 hari akan berkurang sebanyak 526 bulan. Tetapi tidak demikian untuk bulan lainnya.

Sumber gambar: http://www.tondering.dk/

*Moedji Raharto adalah dosen Astronomi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung. Ia merupakan salah seorang astronom atau ahli falak Indonesia yang menaruh perhatian besar terhadap Kalender Islam.

Tulis komentar