Apa Itu Kalender Caka Sunda?

Oleh: Moedji Raharto* (Astronom)

 

Masyarakat Sunda mengenal dua kalender, yaitu CAKA SUNDA (Candra Kala) dan SAKA SUNDA (Surya Kala). CAKA SUNDA merupakan sistem kalender Bulan, sedangkan SAKA SUNDA merupakan sistem kalender Matahari. Setahun kalender CAKA SUNDA maupun SAKA SUNDA terdiri atas 12 bulan.

Kalender CAKA SUNDA menggunakan siklus sinodis bulan sebagai acuan: bulan pada kuartil pertama, bulan terlihat pada sore hari (terbit sekitar tengah hari dan terbenam sekitar tengah malam), dan bulan berada dekat kulminasi atas (tempat tertinggi) sekitar sore hari ketika Matahari terbenam. Sementara itu, kalender SAKA SUNDA merupakan kalender matahari yang mengacu pada tahun tropis, dan berawal saat Matahari tampak di titik paling selatan, yaitu sekitar tanggal 22 Desember.

Indikator awal tahun CAKA SUNDA adalah fenomena bulan kuartil pertama. Tiap bulan terdiri dari 29 hari atau 30 hari, terbagi atas 14 atau 15 hari Suklapaksa  (tanggal 1S – 14S atau 1S – 15S), kemudian dilanjutkan dengan 14 atau 15 hari Kresnapaksa (tanggal 1K – 14K atau 1K – 15K). Fenomena gerhana Bulan terjadi di bagian Suklapaksa sedangkan gerhana Matahari terjadi di bagian Kresnapaksa.

Seperti kalender bulan pada umumnya, jumlah hari dalam setahun kalender CAKA SUNDA bisa terdiri atas 354 hari pada tahun basit/tahun pendek atau 355 hari pada tahun kabisat/tahun panjang.

Setiap siklus 8 tahun terdiri atas 3 tahun kabisat (tahun Monyet, tahun Embe, dan tahun Hurang) dan 5 tahun basit (tahun Kebo, tahun Hurang, tahun Kalabang, tahun Keuyep, dan tahun Cacing). Pada tahun kabisat, bulan ke-12 terdiri atas 30 hari, dan Asuji (Kresnapaksa) terdiri atas 15 hari.

*Moedji Raharto adalah dosen Astronomi di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Bandung. Ia merupakan salah seorang astronom atau ahli falak Indonesia yang menaruh perhatian besar terhadap Kalender Islam.

Tulis komentar